Menu

Eksotika Rumah Adat Lampung dan Sejarah Awal Mulanya

Rumah merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sebagaimana semboyan sandang, pangan, dan papan, rumah merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk menjaga keberlangsungan kehidupan manusia. Tanpa rumah, manusia akan kesulitan melindungi diri dari kondisi cuaca, binatang, maupun serangan manusia lain. Akan tetapi, fungsi rumah tidak berhenti di situ saja. Terlebih bagi rumah adat yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, melainkan juga penunjuk status dan keistimewaan lain yang tidak pernah kadaluwarsa untuk dibahas, salah satunya adalah rumah adat Lampung.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai Rumah adat masyarakat Lampung, ada baiknya jika kita mengulas sedikit mengenai masyarakat adat Lampung terlebih dahulu. Lampung merupakan salah satu provinsi Pulau Sumatera yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda. Artinya, provinsi Lampung adalah pintu gerbang yang menghubungkan Pulau Jawa dengan pulau Sumatera. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Provinsi Lampung menjadi lahan basah transmigrasi Suku Jawa. Sampai saat ini, Suku asli Lampung hanya mengisi sekitar 12% dari komposisi penduduk Lampung. Suku asli Lampung atau yang memiliki istilah ulum Lampung memiliki warisan budaya rumah adat yang bernama Nuwou Sesat.

Tidak Tersesat di Rumah Nuwou Sesat

Nuwou Sesat merupakan frasa yang berasal dari Bahasa Lampung. Nuwou merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat ibadah baik itu masjid, mushola, surau, atau sebagainya. Sedangkan sesat merupakan bangunan yang dijadikan sebagai tempat bermusyawarah, atau juga dapat berarti tempat penyimpanan makanan. Penamaan Nuwou Sesat sendiri bermula dari fungsinya sebagai balai permusyawarahan masyarakat. Nuwou Sesat kemudian berkembang menjadi tempat pertemuan adat dan tempat pelaksanaan upacara adat, sehingga dapat disebut juga sebagai Sesat Balai Agung. Namun seiring perkembangannya, rumah adat Nuwou Sesat dijadikan sebagai hunian Ulum Lampung.

Rumah Adat Lampung Nuwou Sesat yang berbentuk rumah panggung memiliki bahan dasar kayu sebagai instrumen utama pembentuknya. Untuk membangun rumah Nuwou Sesat, maka diperlukan pondasi yang disusun dari batu umpak persegi. Pada setiap umpak batu tersebut, didirikan tiang penyangga dan tiang induk. Umumnya, tiang penyangga terdiri dari tiga puluh lima buah dan tiang induk terdiri dari dua puluh buah tiang. Selanjutnya, disusunlah lantai rumah yang berbahan bambu atau papan yang dibentuk dari kayu klutum, kayu bekhatteh ataupun kayu belasa. Dinding rumah adat dibuat dari kayu yang disusun berjajar vertikal. Setiap jendela dan pintu yang dibuat dalam bentuk setangkup ganda persegi panjang dengan dilengkapi teralis dari kayu. Atap rumah ini dibentuk dalam model bubungan yang memusat ke suatu titik di tengah ruangan. Pusat titik atap tersebut kemudian ditutup dengan katu bulat yang disebut button. Di atas button tersebut diletakkan kayu bulat lagi yang dlapisi dengan tembaga. Di atas button bertembaga, masih dipasang lagi tembaga atau kuningan sampai dua tingkat, selebihnya pemilik dapat menambahkan perhiasan sesuai selera.

Ruangan dalam rumah adat ini juga dibagi-bagi antara lain panggakh (loteng), lepau (serambi), lapang lom (ruang keluarga), bilik kebik (kamar tidur utama), tebelayakh (kamar tidur kedua), sekhudu (bagian belakang yang digunakan oleh ibu-ibu), dan depokh (dapur). Masing-masing ruang memiliki fungsi berbeda dengan filosofi berbeda.

Salah satu ciri khas yang tidak dapat lepas dari rumah adat Lampung adalah adanya ukiran-ukiran dalam kayu yang digunakan sebagai komposisi rumah. Masing-masing motif ukiran dipahat dengan filosofi yang berbeda-beda. Adapun semangat yang wajib diusung dalam ukiran adalah pesan bermasyarakat dan gotong royong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *